Benarkah Santan Sebabkan Peningkatan Kadar Kolesterol?

Sumber gambar: Freepik

Tidak lengkap rasanya merayakan lebaran tanpa mengonsumsi hidangan khas Hari Raya bersama keluarga. Santan menjadi salah satu bahan wajib dalam membuat hidangan Hari Raya. Seringkali kita dengar bahwa konsumsi santan dapat menyebabkan peningkatan kadar kolesterol, apakah benar?

Berbicara tentang santan, terdapat hal yang masih menjadi kontroversi, yaitu apakah memang santan berdampak buruk bagi kesehatan, salah satunya meningkatkan kadar kolesterol. Berikut adalah beberapa penelitian seputar santan dan kadar kolesterol tubuh:

  1. Santan tidak mengandung kolesterol karena kolesterol tidak ditemukan  dari bahan nabati, termasuk kelapa dan olahannya, yaitu santan. Kolesterol hanya terdapat pada makanan hewani. Meskipun begitu, santan tetap merupakan sumber lemak. Untuk mencerna lemak, tubuh akan memproduksi kolesterol sebagai bahan baku empedu yang diperlukan dalam pencernaan lemak. Maka itu, semakin banyak konsumsi santan, maka dapat menyebabkan peningkatan kadar kolesterol darah.1
  2. Santan mengandung lemak jenuh yang tinggi dibandingkan sari nabati lainnya (misal sari kedelai, sari almon, sari oat, sari mete). Asupan lemak jenuh harian harus dibatasi untuk mengurangi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular).2,3
  3. Sebuah penelitian pada orang dewasa berusia 25-65 tahun menunjukkan bahwa frekuensi konsumsi santan yang sering (>3 kali/minggu) meningkatkan risiko penyakit pada pembuluh darah (vaskular) sebesar 1,3 kali lipat dibandingkan asupan santan yang tidak sering (<2 kali/minggu).4
  4. Sebuah penelitian pada orang dewasa hingga lansia (berusia 20-70 tahun) menunjukkan bahwa asupan makanan bersantan berhubungan dengan kejadian hipertensi (tekanan darah tinggi).5
  5. Santan juga seringkali digunakan bersamaan untuk pengolahan bahan hewani yang tinggi kandungan kolesterol seperti daging merah atau otak. Makanan ini mengandung tinggi kolesterol bukan karena kandungan santannya melainkan karena bahan hewani yang digunakan.

Namun di sisi lain juga banyak literatur yang justru memandang santan baik bagi kesehatan, diantaranya :

  1. Santan mengandung asam laurat (salah satu jenis asam lemak rantai sedang) yang dapat membantu membentuk pertahanan atau imunitas terhadap penyakit akibat virus, jamur, maupun bakteri.6,7
  2. Sebuah penelitian menganalisis aktivitas antioksidan dalam santan. Hasilnya, santan memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan susu sapi dan susu kambing. Penelitian tersebut juga menyatakan bahwa santan dapat dianggap sebagai komponen makanan yang menjanjikan untuk mencegah kerusakan oksidatif (kerusakan tubuh akibat paparan radikal bebas yang dapat memicu berbagai penyakit) dan mengurangi risiko penyakit degeneratif (penyakit dengan perubahan fungsi atau struktur jaringan atau organ terdampak memburuk seiring waktu 8).9
  3. Penelitian lain pada manusia juga menyimpulkan bahwa lemak kelapa dalam bentuk santan tidak menyebabkan dampak buruk bagi profil lemak masyarakat umum dan justru bermanfaat karena menurunkan kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol baik (HDL).10
  4. Sebuah penelitian pada tikus yang mengalami diabetes menunjukkan bahwa santan memperbaiki profil lemak dengan menurunkan kadar kolesterol total, kolesterol jahat (LDL), dan triasilgliserol, serta meningkatkan kolesterol baik (HDL).11
  5. Penelitian lain pada tikus menyimpulkan bahwa santan memiliki efek protektif terhadap tubuh, yaitu menekan inflamasi (peradangan tubuh), meningkatkan jumlah sel mukosa (sel yang mengeluarkan lendir dan berfungsi sebagai perlindungan mekanis, anti-mikroba, dan membantu pelumatan makanan 12) tubuh, dan mempercepat homeostasis (pengaturan) sel mukosa.13
  6. Penelitian pada tikus juga menunjukkan bahwa santan dapat mendorong pengeluaran kolesterol tubuh melalui pengeluaran empedu (empedu terbuat dari kolesterol).14
  7. Senyawa fenol pada santan dapat melindungi zat gizi makro (misalnya lemak, protein) serta DNA dari kerusakan oksidatif.15

Pada intinya, kandungan gizi energi dan zat gizi dalam santan dapat berkontribusi mencukupi kebutuhan energi dan zat gizi harian kita. Namun tidak dapat dipungkiri, porsi makanan berlebihan justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Oleh karena itu, untuk dapat memaksimalkan manfaat santan, sebaiknya kamu mengetahui jumlah aman konsumsi santan dan untuk olahan apa saja dapat dikonsumsi di keseharianmu dengan bantuan meal plan dari Dietela. Agar meal plan bisa dibuat personalized, kamu bisa coba konsultasi dulu lho ke Ahli Gizi Dietela melalui WhatsApp

Editor: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, SKM, MKM

Referensi:

1 Sutopo D. Functional Food. Elex Media Komputindo: Jakarta, 2021.

2 Andreo C, Rivero-Mendoza D, Dahl WJ. Plant-Based Milks: Coconut. EDIS 2020; 2020. doi:10.32473/EDIS-FS411-2020.

3 Katz AC. Milk Nutrition and Perceptions. 2018.

4 Tuminah S, Sihombing M. Frequent coconut milk intake increases the risk of vascular disease in adults. Universa Med 2015; 34: 149.

5 Setia B, Simatupang A, Siregar HH. Korelasi Mengkonsumsi Makanan Bersantan Pada Suku Melayu Dengan Penyakit Hypertensi Di Desa Pertumbukan Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat. In: Prosiding Seminar Nasional III Biologi dan Pembelajarannya. Universitas Negeri Medan: Medan, 2017.

6 Rethinam P. The coconut palm (Cocos nucifera L.) – Research and development perspectives. In: Nampoothiri KUK, Krishnakumar V, Thampan PK, Achuthan Nair M (eds). The Coconut Palm (Cocos nucifera L.) – Research and Development Perspectives. Springer Singapore: Singapore, 2018 doi:10.1007/978-981-13-2754-4.

7 Axe J. Eat Dirt: Why Leaky Gut May Be the Root Cause of Your Health Problems and 5 Surprising Steps to Cure It. Harper Wave: New York, 2016.

8 National Cancer Institute. Definition of degenerative disease . https://www.cancer.gov/publications/dictionaries/cancer-terms/def/degenerative-disease (accessed 24 Mar2022).

9 Alyaqoubi S, Abdullah A, Samudi M, Abdullah N, Addai ZR, Musa KH. Study of antioxidant activity and physicochemical properties of coconut milk (Pati santan) in Malaysia. Available online www.jocpr.com J Chem Pharm Res 2015; 7: 967–973.

10 Ekanayaka RAI, Ekanayaka NK, Perera B, De Silva PGSM. Impact of a Traditional Dietary Supplement with Coconut Milk and Soya Milk on the Lipid Profile in Normal Free Living Subjects. J Nutr Metab 2013; 2013: 11.

11 Alatawi KA, Alshubaily FA. Coconut products alleviate hyperglycaemic, hyperlipidimic and nephropathy indices in streptozotocin-induced diabetic wistar rats. Saudi J Biol Sci 2021; 28: 4224–4231.

12 Berin MC, Furuta GT, Aceves SS. Gastrointestinal Mucosal Immunology. Middleton’s Allergy Princ Pract Eighth Ed 2014; 2–2: 1084–1094.

13 Ajeigbe KO, Owonikoko WM, Egbe V, Iquere I, Adeleye G. Gastroprotective and mucosa homeostatic activities of coconut milk and water on experimentally induced gastropathies in male wistar rats. Tissue Cell 2017; 49: 528–536.

14 Wong HK, Choo QC, Chew CH. Coconut milk gavage enhanced fecal bile excretion by modulating hepatic Fxr expression but failed to improve fasting serum cholesterol profile in C57BL/6 mice. 2016. doi:10.1051/ocl/2020037.

15 Karunasiri AN, Gunawardane M, Senanayake CM, Jayathilaka N, Seneviratne KN. Antioxidant and Nutritional Properties of Domestic and Commercial Coconut Milk Preparations. Int J Food Sci 2020; 2020. doi:10.1155/2020/3489605.16 Islam MR, Ali S, Karmoker JR, Kadir MF, Ahmed MU, Nahar Z et al. Evaluation of serum amino acids and non-enzymatic antioxidants in drug-naïve first-episode major depressive disorder. BMC Psychiatry 2020; 20: 1–8.