Konsumsi Karbohidrat Bisa Memengaruhi Kesehatan Mental

Sumber gambar: Freepik

Mood dan emosi manusia (takut, senang, cemas, marah) yang diatur pada sistem limbik di otak dapat dipengaruhi oleh asupan dan komposisi makanan, khususnya makanan sumber karbohidrat.1,2 Coba perhatikan, biasanya dalam keadaan lapar manusia menjadi lebih mudah marah atau kurang konsentrasi. Ketika perut sudah diisi makanan, maka mood mulai kembali normal. Hal tersebut sangat bisa dijelaskan dari hubungan antara otak dengan suplai energinya yang berasal dari glukosa. 

Untuk otak bekerja dengan optimal diperlukan energi yang cukup yang berasal dari glukosa. Otak tidak bisa menyimpan glukosa sebagai cadangan energi maka itu otak sangat sangat bergantung pada penyaluran glukosa dari pembuluh darah. Dalam kata lain kinerja otak bisa dipengaruhi oleh turun atau naiknya kadar glukosa dalam darah.3,4 Glukosa dihasilkan dari makanan yang mengandung karbohidrat seperti nasi, jagung, singkong, sayuran, buah-buahan. Dalam kata lain, makanan yang mengandung karbohidrat dapat memengaruhi kinerja otak yang akhirnya juga akan memengaruhi kondisi mental, seperti mood dan perilaku.5 

Makanan yang tinggi karbohidrat cenderung membuat kurang waspada, memberikan perasaan kurang energik, rasa lelah atau kantuk lebih tinggi dibandingkan dengan makanan tinggi protein.4,6 Di sisi lain, mood bisa terganggu ketika kadar glukosa darah lebih rendah terkhusus ketika kita sedang melakukan kegiatan yang perlu banyak berpikir.6

Asupan makanan rendah karbohidrat juga cenderung memicu depresi karena bisa menurunkan produksi zat kimia otak, yaitu serotonin dan triptofan. Serotonin adalah neurotransmiter (pembawa pesan dalam tubuh) yang memengaruhi mood (rasa tenang), perilaku, nafsu makan, dan memicu tidur.7 Triptofan adalah salah satu jenis asam amino yang dapat memengaruhi kadar neurotransmitter atau zat pembawa pesan dalam tubuh pada otak. Kedua zat kimia otak tersebut berfungsi untuk mendorong perasaan nyaman, senang, dan sehat. Produksi zat kimia otak tersebut dipicu oleh cukupnya konsumsi makanan sumber karbohidrat.5

Bagaimana asupan karbohidrat dapat memicu produksi zat kimia otak? Caranya seperti ini, ketika kita konsumsi makanan yang mengandung karbohidrat maka perangkat dalam saluran pencernaan akan mendeteksi untuk memecah karbohidrat menjadi glukosa agar lebih mudah diserap ke dalam tubuh.  Pada saat tersebut otomatis hormon insulin yang ada di dalam tubuh juga mulai bekerja karena hormon insulin bekerja layaknya kunci yang membuat glukosa dapat masuk ke dalam sel lalu dipakai sebagai sumber energi, sekaligus memicu masuknya triptofan ke dalam otak.5

Editor: Rifqah Indri Amalia, S.Gz, M.Sc

Referensi:

1     Rajmohan V, Mohandas E. The limbic system. Indian J Psychiatry 2007; 49: 132.

2     Queensland Brain Institute The University of Queensland. The limbic system. https://qbi.uq.edu.au/brain/brain-anatomy/limbic-system (accessed 14 Feb2022).

3     Morris N, Sarll P. Drinking glucose improves listening span in students who miss breakfast. Educ Res 2001; 43: 201–207.

4     D’Anci KE, Watts KL, Kanarek RB, Taylor HA. Low-carbohydrate weight-loss diets. Effects on cognition and mood. Appetite 2009; 52: 96–103.

5     Rao TSS, Asha MR, Ramesh BN, Rao KSJ. Understanding nutrition, depression and mental illnesses. Indian J Psychiatry 2008; 50: 77.

6     Benton D. Carbohydrate ingestion, blood glucose and mood. Neurosci Biobehav Rev 2002; 26: 293–308.7     Wardlaw GM. Contemporary nutrition: a functional approach. 2nd ed. McGraw-Hill Education: New York, 2012.